Ilustrasi penulis Papuanus Iyai (Pemuda Papua)


JAYAPURA_AKURATPAPUA.COM -- Alasan Pelarangan Lock-Down Tito, Irasional dan Tidak Substansial.”
Tito Jadi Superman Papua saja.

(Oleh Papuanus iyai)

1. PROLOG
Kepada pembaca yang berbudi pekerti bijaksa, terutama sahabat-sahabatku yang hingga saat ini masih mengungsi di hutan belantara Nduga, Intan Jaya dan Puncak. Kemudian juga rekan-rekan mahasiswa Papua dan semua orang yang tinggal di Papua – yang mecintai Papua – yang sayang sama Papua – yang ingin membangun Papua demi mewujudkan kedamaian abadi, keadilan dan kesejahteraan di tanah Papua. 

Sementara nyawa kita terancam oleh moncong senjata ulah kolonialis, penderitaan kita pun kian bertambah oleh hadirnya SARS-COV-19, terlebih ketika Virus Varian Delta mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Tidak sedikit orang yang menjadi korban keganasan virus mematikan ini. Virus yang masih diperdebatkan asal-usul serta latar belakang kehadirannya ini, kini sudah merembes dan sedang merajalelah di bumi Cendrawasih Papua. Sudah sekian korban orang Papua melayang akibat virus ini. 

Kendati nyatanya konsekuensi dari hadirnya virus ini dapat kita rasakan dan saksikan, tidak sedikit dari kita yang masih belum meyakini, dan mempercayai kehadiran virus ini. Sebagian dari kita tengah menolak untuk mempercayainya. Kita semakin diberdayakan oleh isu, berita artikel dan sejenisnya dari seperangkat media hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tentu, itu embuat kita semakin menolak untuk mempercayai adanya virus ini. 

Manakalah kita ikuti berita mutakhir secara cermat dan bijaksana, kita akan menemukan adanya kecemasan, sikap apatis, skeptikal dan trauma dengan program Vaksinasi. Banyak orang asli Papua (OAP) menolak program vaksinasi. Mengapa bias terjadi demikian? Tentu ada alasan-alasan tertentu dibalik semua ini. 
Lalu, bagaimana dengan larangan Tito Karnavian terhadap rencana Lock-Down di Papua?

2. ALASAN TITO KARNAVIAN MELARANG LOCKDOWN.

Pembaca yang budiman…!
Hari ini kita dikagetkan dengan adanya larangan pemerintah Pusat, oleh Tito Karnavian, Kementerian Dalam Negeri, menerapkan Lockdown di Papua. Berita yang dipublikasih oleh Media CNN Indonesia pada hari ini, 26/07 2021, membuat kami masyarakat awam semakin skeptikal dengan kebijkan model demikian ditengah mencuaknya kasus Covid-19 di Papua. 

Berikut adalah argumentasi pemerintah Pusat melarang pemerintah daerah melakukan Lock-down, dan lebih mengedepankan PPKM darurat level 3 di Papua:

a. Menurut Tito, Lockdown akan membingunkan Masyarakat Papua.

Menurut pak Tito, seperti yang dilangsir media CNN, alasan utama beliau melarang pemberlakuan Lockdown adalah belum adanya pemahaman oleh masyarakat Papua tentang LOCK-DOWN. 

Loh! Pak Tito ini pura-pura lupa, dungu, Amnesia atau kenapa sampai beliau bisa beralasan demikian. 

Pak Tito, kan tahun lalu di Papua dan seluruh Indonesia pernah melakukan Lockdown. Tentu masyarakat paham konsep LockDown seperti apa. Masyarakat Papua bukan lagi masyarakat primitif. Tidak seperti dulu lagi pak. 

Dengan kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi yang semakin canggi dan mutakhir ini, masyarakat sudah tentu paham konsep LockDown seperti apa. Mereka tau apa yang mereka harus siapkan sebelum LockDown. 

Jangan samakan Jawa dan Papua pak. Papua itu tanah subur. Jadi, ya, masyarakat bias tanam Singkong, Umbian, sayur-mayur untuk bertahan hidup selama LockDown, walau tidak ada beras sama sekali. 

Dapat kita simpulkan bahwa alasan pak Tito yang pertama, bahwa beliau melarang LockDown karena masyarakat Papua belum paham dan bingung dengan LockDown, dengan mudah kita patahkan dan kita katakana alasannya irasional, tidak substansial alias ngawur.

b. PPKM Level 3 di Papua lebih Tepat dan Rinci.

Pak Tito, bapak paham kan dengan kondisi budaya, dan tradisi Papua? Bapak Tito sendiri pernah menjabat menjadi Kapolda Papua. Saya yakin bapak sudah tentu mempelajari tradisi, norma, nilai, kesukuan, nuansa, ciri, corak hidup, etos kerja orang Papua, dan banyak aspek lain lagi yang bapa pastinya sudah pahami dan pelajari. 

Tradisi Papua sangat memungkinkan virus Covid ini menyebar dengan cepat. 
Pertama, papua dikenal dengan Kipo, salam jari, jabat tangan, sapaan dllnya. Sehingga, tradisi yng mendarah daging ini dapat menjadi channel penyebaran Covid-19.
Kedua, satu rumah bias menampung dua, tiga sampai empat keluarga. 
Tiga, kuatnya tradisi ngopi, ngobrol dan begadang di kalangan orang tua maupun pemuda dan remaja. 
Empat, kuatnya keyakinan dan kepercayaan animisme di Papua, terutama di perkotaan kecil dan pedalaman. 
Lima, sebagai penduduk yang mayoritas beragama Kristen, iman kadang mengalahkan fakta, dan lebih berpegang teguh pada iman. 
Enam, banyak OAP yang menolak Vaksinasi karena mereka masih trauma dengan kejahatan Negara, dimana dalam program Vaksinasi melibatkan unsur keamanan sebagai stakeholder.
Dan masih banyak lagi instrumen-instrumen yang dapat mempercepat penyebaran covid 19.

Saya makin bingung Pak. Kurangnya pemahaman bapak sewaktu menjadi Kapolda Papua yang hingga kini bapa masih belum paham kemudian melarang melakukan Lockdown di Papua dan lebih mengutamakan PPKM level 3?. Ataukah memang demikian kebijakan Memendagri yang terlihat sangat tidak menghormati keselamatan dan eksistensi orang asli Papua dalam kaitannya dengan larangan Lockdown? Ataukah Negara punya niat dan maksud yang lain? Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang. 

c. Pemerintah akan Melakukan Evalusi.

Lagi-lagi, pak Tito bilang kita akan evaluasi jika PPKM level 3 ini gagal. 
Ya ampun Pak! kenapa tunggu ada korban dulu baru mau evalusi? Apa biar Negara kelihatan seperti pahlawan begitu kah? ibarat bantuan penyelamatan setelah aktor utama menghabisi para penjahat dalam serial film action? Biar Negara jadi sok Pahlawan begitu ya pak. 
Sekaligus pak Tito jadi Superman Orang Papua saja Pak. 

d. Paradoks Tito agar suhu Covid di Papua Menurung.

Itu kan! Lagi-lagi pak Tito membuat statement Kontradiktif. Alasan ini benar-benar mengandung nilai paradox. Pak Tito punya harapan agar suhu Covid di Papua meredah. Namun anehnya, tindakan pak Tito amat tidak sesuai dengan harapan beliau. Kalau seandainya pak Tito punya harapan, niat dan maksud yang baik supaya angka Covid 19 di Papua menurung, sesuai harapan beliau, ya kenapa tidak dilakukan LockDown sekaligus saja Pak? Apa yang bapak takutkan?

Bapak tenang saja, orang Papua tidak akan mati kelaparan selama Lockdown. Tanah Papua tidak seperti Jawa, yang kumu, penuh sampah dan tidak subur akibat efek Greenhouse. Papua masih segar, tanahnya subur. Bapak tidak perlu kuatir. 

e. Kalau PPKM level 3 tidak berhasil, akan dinaikan ke level 4 Menurut Tito.

Alasan kelima pak Tito, seperti yang dilangsir CNN kemarin, jika PPKM level 3 tidak berhasil, maka akan dinaikan ke level 4. Disini saya semakin bingung dengan jalan pikirannya Menteri kita ini. 

Jika ibumu batuk-batuk dan dia meminta kamu untuk mengantarkan dia ke rumah sakit agar sakitnya hilang, pernah kah kamu bilang, “Ibu sabar, nanti ibu sakit dada dulu – kalau ibu sakit dada tidak lekas sembuh, nanti tunggu sampai ibu meninggal dulu, kemudian barulah saya akan bawa ibu ke rumah sakit.”

Tidak kasihan ibu? Kenapa tunggu ibu sakit jantung dulu? Kenapa setelah sakit jantung pun kamu masih mau tunggu sampai ibumu meninggal dulu? Adakah sifat manusiawi? Tentu tidak.

f. Hipotesa Alasan Politik.

Dibalik lima irasional dan tidak substansial itu, penulis menemukan ada kemungkinan alasan tersembunyi demi mendorong dan memperlancar kepentingan Negara di bumi Papua, dan penulis berhipotesa sebagai berikut:
Pak Tito terlalu kuatir kalau bulan Agustus Papua di LockDown, maka itu akan memberikan ruang bagi OPM/TNPB untuk melakukan perang menjelang HUT RI, 17 Agustus 2021. 
Kedua, Lockdown akan memperlambat pengiriman Pasukan TNI/POLRI, terutama penyebaran basis BIN/BIAS yang sebelumnya juga pernah tersebar di Papua sekitar 600 anggota BIN.
Pak Tito terlalu fobia kepada pemerintah daerah pasca disahkannya RUU sepihak oleh Jakarta, termasuk pak Tito sebagai aktor utamanya.
Pak Tito kuatir adanya gerakan Mobilisasi oleh KNPB di Papua sebagai bentuk kekecewaan rakyat Papua terhadap Otonomi Khusus alias anak Haram hasil Party Sex antara elit Papua dan Jakarta.
Pak Tito takut nanti pendapatan business, usaha dan perusahaan illegal milik mereka yang ada di Papua dibatasi jam kerja dan akan berdampak pada berkurangnya pemasukan. 
Mengalihkan murka OAP dari Otsus ke Lockdown.
Sebagai bentuk penyelewengan, serta tidak adanya penghargaan dan kepercayaan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah.
Sebagai bentuk kejahatan Negara, setelah Pengesahan RUU Otsus sepihak oleh Jakarta.

3. MENGAPA PAPUA BUTUH LOCKDOWN?

Papua itu adalah sebuah bangsa tersendiri, dimana budaya dan tradisinya sangat berbeda jauh dengan sahabat-sahabat kita dari provinsi lain. Tentu dalam treatment method juga papua musti dilakukan dengan metode, teknik dan pendekatan yang berbeda. 

Melihat fakta dan data perkembangan situasi penyebaran SARS-COV-19 hari ini di Papua, beberapa rumah sakit sudah mengeluh karena tempat penampungan sudah mulai penuh seperti di Wamena. Juga, rumah sakit Timika dan Merauke juga sudah mulai kehabisan oksigen, dan penambahan pasien Covid makin hari, makin bertambah – tak terkecuali di Provinsi Papua barat. 

Salah satu alasan kuat yang penulis temukan dari pola penyebaran virus covid-19 ini adalah, terbukanya pintu keluar masuk di tanah Papua – Dimana banyak sekali saudara/i kita pendatang yang lebih dominan membawa masuk virus covid ini, terlebih varian delta. 

Dengan terbukanya pintu keluar masuk di Papuaa, harapan pak Tito dan harapan kita agar terjadi penurunan aroma ancaman Covid 19 di Papua ini terlihat semakin mustahil. PPKM darurat level 3, ataupun 4, dengan mempertimbangkan polah hidup, etos kerja, budaya dan tradisi orang Papua saat ini nampaknya mustahil, dan tentu tidak akan berhasil.

Alhasil, Papua akan menghadapi Tsunami kematian Manusia, dan PON di Papua yang sudah siap 80%  akan tertunda hingga tahun depan. 

4. KESIMPULAN DAN SARAN.

Dengan melihat penjelasan singkat diatas, dapat kita simpulkan bahwa:
1. Lima butir alasan Pak Tito melarang Lock-down di Papua tidak logis dan substansial, alias ngawur.
2. PPKM level 3 maupun 4, dengan mempertimbangkan kuatnya kemungkinan peningkatan suhu Covid, maka PPKM ini tidak ampuh alias banyak orang Papua akan berjatuhan.
3. Ada alasan-alasan tersembunyi dan kepentingan Negara serta kepentingan para investor dan pemilik saham di Papua yang takut bangkrut dengan adanya Lockdown.
4. Dapat dikategorikan kedalam rencana kejahatan Negara (Genocida)

Maka penulis Menyarangkan:

1. Menerapkan system Lockdown demi menghindari Tsunami Kematian manusia di Papua sesuai UU 6/18 pasal 55. 
2. Diperlukan treatment, metode, teknik dan pendekatan yang khusus dalam menangani kasus covid 19 di Papua.
3. Perlunya sosialisasi Vaksin, dan alangkah baiknya TNI/POLRI tidak terlibat, demi menghindari kejahatan Negara, mengingat masyarakat masih trauma dengan pihak keamanan Negara di Papua.

Penulis adalah Papuanus Iyai (Pemuda Papua)
Editor: (JT)